songket ungu

Pesona Motif Tenun Minang

LUAR biasa kekayaan budaya masyarakat Indonesia. Masing-masing daerah mempunyai tradisi dan khasanah adat berbeda-beda. Itu menjadi salah satu kelebihan negara kita yang harus senantiasa dijaga,dilestarikan,bila perlu dipertontonkan.

Salah satu dari ratusan kekayaan budaya itu didatangkan ke Museum Nasional, Jakarta. Puluhan corak dan motif kain tradisional Minangkabau berusia ratusan tahun sedang dipamerkan dalam Pesona Kain Tradisional Minangkabau, 7–30 April 2008.

Kain tradisional Minangkabau yang dipamerkan itu adalah gabungan koleksi Museum Nasional Indonesia, Museum Adityawarman Sumatera Barat, dan Anjungan Sumatera Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kain tradisional adalah salah satu dari hasil kebudayaan masyarakat Minangkabau,Sumatera Barat (Sumbar),yang khas, unik, indah, dan sarat makna simbolis.

Tradisi tenun dan songketnya dikenalkan pedagang Arab, India, dan Tionghoa yang menguasai perdagangan di Asia Tenggara. Dalam pembukaan pameran,Kepala Museum Adityawarman Sumbar, Usria Dhavida, menjelaskan bahwa kain songket Minangkabau yang terkenal dengan benang emas dan peraknya itu punya corak khusus meskipun desain motifnya sama dengan daerah lain.Kain-kain itu terdiri atas dua jenis,kain songket balapak dan kain songket bertabur atau batabua.

”Pada kain songket balapak, seluruh permukaan kainnya disongket benang emas atau perak yang rapat dan padat. Kalau kain songket bertabur, motif yang memakai benang emas atau perak berserakan dan menyebar,” jelasnya. Selain songket yang sudah dikenal dunia, masyarakat Minangkabau dikenal ahli membuat kain sulam atau bordir menggunakan benang emas.

Seni kerajinan ini diadaptasi dari pengaruh budaya China yang kemudian dijadikan bagian dari adat istiadat oleh masyarakat Minangkabau. Menurut Usria,corak yang digunakan dalam kain sulam maupun songket diambil dari alam lingkungan daerah para perajin. Aneka tumbuhan dan hewan adalah motif yang paling banyak disukai. Sulur-sulur bunga, buah manggis, ular,itik,dan lainnya.

Masing-masing motif dan corak memiliki filosofi dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Misalnya, motif pucuk rebung mengandung simbol bahwa anak laki-laki Minangkabau harus seperti bambu. Ketika muda, dia berguna (dapat dimakan) dan saat tua dihormati.

”Kain untuk upacara adat lebih berkesan mewah, baik warna maupun motif pada kain tersebut,”jelas Usria. Motif yang terdapat pada kain tenun maupun sulaman tidak berbeda dengan motif ukiran yang terdapat pada rumah gadang.Seperti halnya beberapa daerah yang terdapat di Indonesia, Minangkabau juga banyak mendapat pengaruh budaya dari negara lain,seperti Eropa,India,Tionghoa, dan Arab Saudi.

Hal itu dapat terlihat pada beberapa motif yang dipakai. Mahkota, tulisan Arab pada ukiran rumah gadang, motif kaligrafi pada songket, hingga motif swastika. Sementara pelaminan dan pakaian pengantin Sumbar merupakansuatu perpaduan dari pengaruh budaya Eropa dan Tionghoa. Selain kain tradisional,pameran ini memajang miniatur rumah gadang sebagai rumah adat masyarakat Sumbar.

Ada juga ukiran yang biasa terdapat pada kayu rumah gadang,pelaminan,pakaian pengantin dari beberapa suku di Minangkabau. ”Sebenarnya benda-benda adat Minangkabau sangat banyak. Yang dipamerkan di sini adalah ikon-ikon terbaik saja. Karena keterbatasan tempat, kami tidak bisa memamerkan semuanya,” kata Kepala Museum Nasional Retno Sulistianingsih.

Selain untuk melestarikan salah satu kekayaan budaya Indonesia, pameran ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian Visit Indonesia Year 2008.Pameran ini juga dijadikan sebagai langkah awal dari pameran besar bertajuk History and Cultures of Sumatera: Diversity and Dynamics (Sejarah dan Kebudayaan Sumatera) yang akan diselenggarakan tahun depan di Museum Singapura dan Museum Prancis.(donny apriliananda)–kompas

Source, http://lepinter.wordpress.com

Picture, www.google.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>